Damai itu Membuat Kita Gembira
Oleh
Andy armansyah
Meski bukan satu-satunya jawaban, olahraga mampu mengiinspirasi siapapun untuk mewujudkan perdamaian. Olahraga menumbuhkan semangat persaudaraan, kerjasama, kekompakan, kesetaraan, sikap saling menghormati, kompetisi sehat atau fair play, mengakui kekuatan lawan, serta sikap positif lainnya. Ia menjadi jembatan bagi berbagai perbedaan suku, ras, agama, budaya, sosial, ketimpangan ekonomi, hingga perbedaan ideologi.
Tidak mengherankan tiap agenda olahraga bergengsi dunia olimpiade digelar, perhatian dunia tertuju padanya. Seperti olimpiade yang digelar sebelumnya, Olimpiade Beijing 2008 lalu sukses menyedot perhatian seluruh umat manusia di dunia. Olimpiade termegah sepanjang sejarah ini mampu membuat negara-negara yang saling bermusuhan dan berperang seakan lupa bahwa mereka tengah saling bersengketa. Dunia mampu bersatu dalam perdamaian, One World One Dream.
Impian bersatu dalam damai juga dikabarkan dari desa kecil di sekitar sungai Kluet, kabupaten Aceh Selatan. Pada Minggu pagi (21/12), desa Alur Mas, kecamatan Kluet Utara, menjadi titik awal pemuda pemudi mengukuhkan perdamaian melalui turnamen olahraga.
Ketua Pemuda Desa Alur Mas Yusuf Abadi mengungkapkan, melalui kegiatan ini, tali silaturrahmi antara pemuda-pemudi khususnya, dan masyarakat pada umumnya bisa terjalin. “Kita bisa saling mengenal pemuda-pemudi dari desa lain. Dari sini, kita bisa saling belajar satu sama lain. Kerukunan diantara kami tentu sangat penting bagi terciptanya perdamaian,” ujarnya.
Bertahun-tahun bumi serambi Mekah ini menjadi ajang pertempuran berdarah. Tak terhitung lagi nyawa melayang akibat peperangan. Kedukaan, kebencian, permusuhan, luka harus dihapuskan dari setiap nyawa dengan satu tekad, perdamaian. Menurut keuchik desa Alur Mas Ismun Saleh, perdamaian di Aceh harus tetap dijaga demi kenyamanan seluruh warga Aceh. Ia berharap, peperangan di masa lampau dan memakan korban nyawa serta harta yang tidak sedikit itu jangan sampai terjadi lagi di Tanah Rencong.
“Perdamaian di Aceh ini sangat penting untuk membangun Aceh. Kita sebagai warga yang cinta damai harus benar-benar menjaga perdamaian demi kebaikan warga Aceh sendiri,” kata Ismun Saleh saat menyampaikan sambutan di hadapan peserta dan warga desa.
Ismun yang mengaku bangga desanya dipilih Jesuit Refugee Service menjadi lokasi pesta perdamaian ini mengatakan, nilai-nilai perdamaian yang diperoleh dari ajang olahraga harus ditularkan pada warga desa di desa-desa lain. Baginya, mengajarkan perdamaian pada pemuda seperti yang dilakukan JRS sudah sangat tepat. Sebab kata dia, pemuda merupakan pioner dan penerus bangsa. “Jika pemuda saling bermusuhan, saling berperang, rusaklah negara ini. Rakyat Aceh pun akan kembali tenggelam dalam kesedihan.”
Kebanggaan tidak saja menjadi milik keuchik desa Alur Mas, tetapi juga warga desa Alur Mas. Betapa tidak, dari tujuh desa yang ada seperti desa Simpang Dua, Simpang Tiga, Lawe Sawah, Lawe Buluh Didi, Koto Indarung, serta Siurai-Urai, desa Alur Mas lah yang mendapat kehormatan menyukseskan acara.
Seorang ibu yang enggan menyebut namanya juga mengaku senang desanya menjadi tuan rumah kegiatan ini. “Pemuda pemudi semangat untuk menang. Tetapi meski di akhir pertandingan ada yang kalah, mereka tetap tertawa dan saling bersalaman. Tidak ada rasa benci,” katanya seraya menggendong anaknya saat menyaksikan pertandingan bola volley. Ia juga mengungkapkan, kerukunan antar pemuda desa saat bertemu dalam turnamen menjadi contoh baik bagi warga desa seperti dirinya. “Malu lah rasanya yang tua-tua ini kalau masih bertengkar. Para pemuda saja bisa berdamai,” dalam logat Kluet yang kental.
Bagi orang-orang yang benar-benar disengsarakan oleh konflik, pesta perdamaian sebagai bagian akhir program pelatihan pengelolaan konflik ini sangat mengharukan. Ariah, pemudi yang juga peserta dari desa Koto Indarung mengatakan, turnamen ini membuka hatinya bahwa semangat perdamaian di kalangan pemuda sangat besar. Ingatan masa lalunya yang suram, saat konflik antara TNI dan GAM pecah, memang tidak bisa sirna begitu saja. Namun, semangatnya untuk bisa berkompetisi secara sehat mengalahkan trauma konflik masa lalu.
“Koto Indarung memilih baju seragam warna merah yang artinya berani. Berani sportif, berani mendukung tim, berani kerjasama. Juga berani menerima kekalahan,” kata dia usai bertanding melawan tim Simpang Dua. Ariah mengaku tim volley Simpang Dua sangat kuat dan pantas menjadi juara pertama.
Puncak pelatihan yang dilakukan JRS bekerjasama dengan Asian Soccer Academy tidak saja membuat bangga seluruh warga desa Alur Mas, serta para peserta dari tujuh desa dan siswa SMA Negeri 1 Tapaktuan. Kegembiraan juga terpancar dari penjual es krim potong pak Ahmad. “Ya, damai memang bisa membuat kita senang. Damai membuat saya tidak was-was mencari nafkah untuk keluarganya. Dagangan laris, keluarga bisa makan,” katanya saat membaca kaos panitia yang saya kenakan. Ya, kaos lengan panjang warna biru itu memang berseru “Damai itu Membuat Kita Gembira.”